Laman

Selasa, 16 September 2014

Bunker Cot Batee Geuluengku: "Keuroek-roek" Jepang di Bireun.

Kabupaten Bireuen adalah salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Aceh. Wilayah ini merupakan pemekaran dari kabupaten Aceh Utara pada tanggal 12 Oktober 1999. Kabupaten ini banyak menyimpan legenda dan sejarah yang unik. Pada tahun 1948, Bireuen pernah menjadi ibukota ketiga Negara Repbulik Indonesia. Selain itu masih banyak kisah dan situs sejarah yang telah ditemukan dan dilestasrikan oleh pemerintah setempat, seperti Meuligoe Bupati, Makam ulama dan Bunker.

Bunker adalah bangunan peninggalan Jepang yang dibangun ketika Perang Dunia II ketika tentara Jepang mendarat di Aceh pada tahun 1942-1945. Bangunan ini lebih mirip gua bawah tanah yang mempunyai arsitektur beton. Jepang memang terkenal dengan kemahirannya membangun pertahanan. Hampir di setiap tempat yang pernah disinggahi dibangun benteng, bahkan lubang di bawah tanah. Orang Aceh menyebut bunker dengan sebutan “Keuroek-roek” (sejenis serangga) yang suka masuk dan berlindung di lubang-lubang kecil dalam tanah. Serupa dengan tentara Jepang yang menjadikan bunker sebagai pelindung dari serangan musuh.


Di Bireuen, salah satu bunker peninggalan Jepang baru-baru ini ditemukan di Cot Batee Geuleungku, Kecamatan Simpang Mamplam, Bireuen. Berjarak 30 km ke arah barat dari pusat kota Bireuen.Letaknya di lahan luas di atas perbukitan yang masih sedikit penduduknya. Bangunan ini berada di dalam tanah, untuk memasukinya kita harus melewati 17 anak tangga dan melewati pintu masuk berukuran 1x1,5 meter yang hanya bisa dilewati oleh satu orang saja. Kedalamannya mencapai 5 meter, di dalamnya terdapat lorong panjang yang kondisinya sangat gelap tanpa ada lampu penerang. Namun, sesampai di dalam sana kita bisa menemukan lubang cahaya yang sepertinya sengaja dibuat sebagai titik utama menuju jalan lain. Lorong dalam bunker ini tembus ke pinggiran pantai Teupin Jalo, Simpang Mamplam.

Penemuan bunker di wilayah Cot Batee Geuleungku

17 anak tangga menuju pintu masuk bunker

Lokasi di sekitar bunker


Bunker ini dibangun di daerah ini karena mengingat posisi Cot Batee Geuleungku sangat strategis. Sebelah utaranya langsung berhadapan dengan laut lepas, Samudera Hindia. Tujuan dibangun menghadap lautan adalah untuk memantau serangan tentara sekutu, selain itu juga berfungsi sebagai tempat pertemuan, ruang amunisi dan ruang tahanan. Arsitekturnya dilapisi dengan beton yang kuat dan takkan roboh walau digempur torpedo sekalipun. Tesktur tanahnya juga merupakan karang yang cukup keras, sehingga akar pohon besar saja tidak mampu menembusnya. Jadi bisa ditebak bahwa serangan apapun dari lawan dari berbagai arah tidak akan tepat sasaran. Bangunan ini menjadi tempat pelindung terbaik di masanya.

Konon, bunker ini berawal pada masa penjajahan Jepang saat Romusa (kerja paksa pribumi) ditrapkan. Bedasarkan cerita orang terdahulu, Jepang sengaja mendatangkan orang-orang dari luar Aceh (sebagian menyebut asal Jawa) untuk membangun bunker tersebut. Itu membuktikan bahwa Jepang tidak bisa sepenuhnya menaklukkan orang Aceh.

Namun, saat ini bunker masih tampak kumuh dan belum bisa dikunjungi, karena di dalamnya masih berisi lumpur tebal, sampah dan air tergenang, Tempatnya juga masih sulit dijangkau oleh masyarakat luas. Terkait hal ini, pemerintah Kabupaten Bireuen dan masyarakat setempat sangat antusias untuk membersihkan dan melestarikan tempat bersejarah itu. Pasalnya, ini merupakan asset daerah dan memiliki nilai sejarah tentang keberadaan Jepang di Bireuen.

Situs sejarah seperti ini sangat penting untuk dilestarikan, sebagai asset bagi generasi penerus bangsa sebagai sumber ilmu pengetahun, sejarah dan menjadi objek wisata yang ujung-ujung akan menguntungkan masyarakat sekitar. Sangking pentingnya, salah seorang sastrawan sekaligus jurnalis asal Inggris, George Orwell menyebutkan bahwa sejarah sangat penting bagi suatu bangsa. Sebab, menurutnya untuk menghancurkan suatu generasi cukup dengan mengingkari dan menghapus pemahaman mereka tentang sejarah mereka sendiri.

Ada baiknya jika pemerintah Bireuen mengambil contoh dari negeri seberang, Malaysia. Di Malaysia, tepatnya di Pulau Pinang dan Melaka hingga saat ini pemerintah setempat masih merawat bangunan tua peninggalan Inggris. Sehingga, pulai ini menjadi salah satu World Heritage kota warisan sejarah dunia dan hamper tak pernah sepi pengunjung, baik turis local maupun mancanegara.

Bisa dibayangkan jika semua situs sejarah seperti bunker dilestarikan, generasi selanjutnya akan lebih mengerti tentang sejarah, menghargai perjuang pahlawan, dan bangga bisa mengunjungi tempat bersejarah tersebut. Para pengunjung bisa memasuki bunker dengan melihat isi ruang bawah tanah itu serta bisa merasakan kedinginan berada disana dan merasakan betapa kejamnya penjajahan Jepang terhadap Indonesia.

Pemerintah Bireuen harus serius dan focus dalam melestarikan semua situs sejarah yang dimilikinya. Tentunya dengan dukungan penuh dari masyarakat dan semua pihak yang memiliki wewenang. Sehingga, kelak dala program Visit Bireuen Year 2018, Kabupaten Bireuen bisa menyedot wisatawan local dan mancanegara untuk berkunjung ke Bireuen. Khususnya wisatawan asal Jepang yang dikenal gemar mengunjungi lokasi warisan pendahulunya yang tersebar di berbagai belahan bumi. Dan Kabupaten Bireuen bisa dikenal luas sebagai kabupaten yang memiliki seitus sejarah dan ceritanya yang mendunia. Semoga!

 Kota Bireuen
Sumber Foto:
www. djempa.blogspot.com
www.aulia87.wordpress.com
www.arcieve.kaskus.co.id



2 komentar:

Haya Nufus mengatakan...

Penemuan situs sejarah yang harus dirawat ya Nurul... Tulisannya informatif, good luck! ^^
Saleum

Nurul Hikmah Alghazel mengatakan...

Iya...seperti Jambi, Jawa Barat dan daerah lain di Indonesia yang telah menjadikan bunker sebagai tempat wisata. Makasih Kak sudah berkunjung..:)