Laman

Minggu, 27 Maret 2016

Kenapa Tak Hari Ini Saja?



Jlebb. itu yang saya rasakan ketika pertama kali membaca tema giveaway yang diadakan oleh mba Desi Namora. “Delapan hari menuju kematian”. Asli temanya serem. Serem banget karena memang belum siap mati, dikafani, dan belum siap dimasukkan ke liang lahat. Tapi seakan hati ini tertohok keras. Jika soal dunia (ngerjain tugas dan deadline mati-matian harus sempurna), tapi giliran ibadah dan akhirat ya seadanya dan mungkin terlewatkan begitu saja. Tuhan maaf! kami terlalu sibuk.


Semua akan mati, si kaya, miskin, pintar, bodoh, cantik, ganteng semua akan mati. Jelas bahwa konsekuensi kehidupan adalah kematian. Kematian akan selalu menjadi momok menakutkan. Sebuah peristiwa dahsyat yang memisahkan dari kenikmatan dunia. Datangnya secara tiba-tiba, tak dapat diprediksi dan tak bisa ditolak. Sesuatu yang pasti, tapi masih rahasia. Kenapa dirahasiakan? Tuhan pasti punya maksud. Agar manusia senantiasa mengingat mati, selalu berbuat kebaikan, tidak tenggelam dalam dosa, dan senantiasa menjalani hidup dengan sabar, ikhlas dan syukur.

Bayangkan saja jika kematian itu diketahui, si A hidup hanya 10 tahun, si B hidup hanya 37 tahun 5 bulan 3 hari, dan si C, D, E, dan Z akan mati pada hari sekian, pukul sekian dan detik sekian. Bagi mereka yang hidupnya singkat, hanya bisa sedih dan meratapi bahwa besok ia akan pergi, tak punya masa depan seperti yang lain. Perasaan cemas, murung dan tidak menikmati hidup dengan baik. Dan mungkin akan menjudge “Tuhan kenapa hidupku singkat, kenapa aku tidak seperti mereka?”. Bagi mereka yang diberikan umur panjang, mungkin akan memikirkan “taubatnya entar aja deh! Kan umurnya masih panjang, masih ada waktu untuk ibadah” atau “bayar hutangnya 5 tahun lagi. Tenang saja aku ga bakalan mati, masih ada 30 tahun lagi”. Hingga terkesan menjalani hidup seadanya, semaunya tanpa memikirkan konsekuensi. Bahkan rasa syukur dan ikhlas bisa saja tak hadir dalam sanubari.

Soal kematian yang diketahui, saya terbayang salah satu adegan dalam film In Time (2011)  yang diperankan Amanda Seyfried dan Justin Timberlake. Sebuah film yang menggambarkan kehidupan manusia bergantung pada waktu. Semua orang diberikan waktu untuk bertahan hidup. Semua aktivitas akan menguras waktu yang dimiliki, semakin waktunya habis artinya kematian semakin dekat. Adegan ketika Justin ingin bertemu ibunya yang sudah diambang kematian, namun saat itu semua kendaraan penuh. Hal yang sama juga dilakukakan ibunya, mencari kendaraan di malam buta untuk bertemu terakhir kali. Akhirnya mereka berlarian berpacu dengan waktu. Berlari dalam kecemasan dan perasaan berkecamuk. Hingga pada akhirnya hampir sampai mengenggam tangan, ibunya menghembuskan nafas terakhir. Ia begitu histeris, sedih dan marah karena tidak bisa cepat menemui ibunya. Begitu mencekam jika kematian sudah didepan mata. Cemas, takut dan sebagian orang mengutuk kehidupan.

Jujur saja, kalau ditanya bagaimana persiapan dan keinginan apa yang akan dilakukan dalam kurun waktu delapan hari menuju kematian, saya spechless tidak tau harus berbuat apa. Jika keajaiban mengabarkan “Nurul waktumu tinggal depalan hari lagi”. Saya pasti akan gemetar hebat, shock dan cemas. Susah tidur memikirkan kenapa tidak menggunakan waktu sebaik mungkin, banyak hal yang terlewatkan percuma, dosa yang menumpuk, dan menyakiti hati orang lain. Dengan umur yang tersisa saya ingin mencoba beberapa hal berikut:
1. Sebagai traveller, ingin sekali mengunjungi dan shalat di tiga tempat yang dianjurkan Rasul untuk dikunjungi, yaitu Masjidil haram (Mekkah), Masjid Nabawi (Madinah) dan Masjid Al-Aqsha (Palestina). Sekaligus melaksanakan haji/umroh.

2. Saya ingin ke Palestina. Menghabiskan sisa umur disana dengan mengunjungi dan membantu warga Palestina yang terhimpit dalam kelamnya peperangan. Saya akan mencoba mengabdikan sisa hidup untuk menolong mereka dengan kemampuan yang saya miliki. Saya ingin mati dalam keadaan “jihad.

3. Namun, tabungan saya mungkin belum memadai dan segala keperluan keberangkatan tidak akan selesai sehari dua hari. Jadi, saya memutuskan untuk mengabdikan diri mengurusi kedua orang tua yang telah senja. Mengurusi dan berbakti pada mereka itu juga jihad kan?

4. Membayar semua hutang sembari mengunjungi teman-teman dan para saudara untuk meminta maaf dan pamit. Mereka yang jauh saya hubungi melalui telepon ataupun sosial media. Bagi mereka yang berhutang (mungkin ada yang melupakan hutangnya)  akan saya ikhlaskan. Agar tak terhambat jalannya di akhirat. Biarlah hutangnya saya ikhlaskan sampai di dunia saja (tidak akan dibawa mati). Bukankah surga itu disediakan bagi orang yang sabar dan ikhlas?

5. Menutup seluruh akun sosial media, sehingga tidak ada perkataan dan kesalahan di sosial media yang tertinggal (jangan sampai hal demikian menjadi dosa jariah yang terus mengalir saat saya sudah tak bernyawa).

6. Menjaga shalat berjamaah dan berusaha agar wudhu terjaga sepanjang hari hingga hari yang dinanti tiba. Shalat taubat dan mohon ampun atas dosa kecil ataupun besar, tampak atau tidak tampak, sengaja atau tidak sengaja.

7. Mewakafkan harta yang saya miliki. Membeli kain kafan dan mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan pengurusan jenazah. Agar tidak ada yang kerepotan mengurusi jasad.

8. Pada hari H, saya akan berpuasa agar kelak tidak ada kotoran yang tersisa diperut. Tidak merepotkan orang yang memandikan kelak. Sepanjang hari saya akan terus berzikir dan menunggu dalam istigfar dan doa. Berdoa agar hembusan nafas terakhir dengan hati, pikiran dan bibir yang basah dengan nama Tuhan. Laa ilahaillallah Muhammadarrasulullah.

Saat menulis ini, saya gemetar. Gemetar karena bisa jadi waktu saya ga sampe delapan hari ke depan. Mungkin nanti malam saya akan pergi, atau mungkin besok kesempatan terakhir melihat matahari. Hingga tersadar bahwa, kenapa harus menunggu delapan hari? Kenapa tak mulai saja hari ini?. Mempersiapkan segala sesuatu seperti gambaran diatas untuk bekal terbaik kembali pada Tuhan. Kenapa tidak mulai menabung agar bisa ke Mekkah dan Madinah? Kenapa tak langsung bayar hutang? Kenapa tak mengabiskan waktu bersama orang tua? Kenapa tak segera bersedekah? Kenapa tak shalat tepat waktu dan berjamaah? Kenapa tak senantiasa berzikir? Kenapa harus menunggu? Kenapa tak persiapkan sekarang saja?

Sumber; bangakrie.wordpress.com

Sudahlah...Jangan buang waktu lagi. Sekarang saat yang tepat. Selagi masih mampu, selagi masih ada waktu. Maka persiapkanlah!


Terimakasih kepada mba Dnamora yang sudah “mencubit” saya lewat giveaway ini, semoga kita sama-sama siap menghadap Tuhan dengan segala kemampuan dan amalan terbaik. Hingga pada akhirnya kembali dengan keadaan baik dan dijemput Malaikat dengan lembut serta penuh senyuman. Senyuman pada mereka yang dirindukan surga. Semoga engkau perkenankan Tuhan. Aku mohon, mohon dengan sangat.

3 komentar:

Rohma azha mengatakan...

Iya mbak, terpikirkan gimana pas waktu kita akan mati, kita belum siap apapun.
Tapi memang keadaannya siap ga siap ajal akan mnjmput
Suksesu utk GA nya mbak
Salam kenal ^_^

Namora Ritonga mengatakan...

so touchyyy... Terimakasih tulisannya, Melimpah berkah segala urusannya,, aamiin

Nurul Hikmah Alghazel mengatakan...

Rohma Azha: Siapa tidak siap hadapi!
Salam kenal juga mba. Sukses selalu

Namora: Amin ya Rabb...