Laman

Rabu, 08 April 2015

Gelar Budaya Aceh di Bumi Parahyangan

Pada tanggal 06 dan 07 Maret lalu, Unit Kebudayaan Aceh Institut Teknologi Bandung (UKA-ITB) menyelenggarakan Gelar Budaya Aceh 2015. Gelar Budaya Aceh (GBA) 2015 merupakan acara akbar dari UKA-ITB yang diadakan rutin 3 tahun sekali dan tahun ini merupakan pagelaran GBA yang ke-6. UKA-ITB merupakan unit kebudayan Aceh yang dikelola oleh mahasiswa asal Aceh yang ada di Bandung. sebelumnya, komunitas ini sudah sering mengadakan event-event kebudayaan Aceh dan pada tahun ini sukses mengadakan Gelar Budaya Aceh 2015. Event ini bertujuan untuk mengangkat dan mengembangkan budaya Aceh yang dikhawatirkan akan hilang diterjang masa, mengajak pemuda Aceh untuk sama-sama menjaga dan melestarikan budaya, ajang untuk mempromosikan wisata dan kebudayaan Aceh kepada mahasiswa dan masyarakat Bandung dan mempererat tali silaturahmi antar masyarakat Aceh sendiri.

Rangkaian acara GBA  terdiri dari 2 rangkaian acara yaitu Saweu Budaya dan Malam puncak pergelaran. Saweu budaya meliputi penampilan tarian massal yang diikuti oleh 120 penari yang berasal dari Aceh dan luar Aceh. Tarian yang diadakan di ITB ini mengundang kekaguman para penonton dan kebanggan bagi anak Aceh sendiri, karena yang ikut serta tidak hanya dari Aceh tapi dari berbagai daerah mulai dari anak SD hingga mahasiswa. pada hari yang sama juga diadakan pameran kerajinan dan aneka kuliner Aceh, seperti: Mie Aceh, Canai, Aneka kue Aceh dan Kopi Aceh.


Malam puncak pergelaran merupakan event puncak dari rangkaian GBA 2015. Menampilkan pementasan panggung drama Kejayaan Sultan iskandar Muda yang dipadukan dengan tarian Aceh. Acara ini diadakan di gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga ITB), yang dihadiri oleh Menteri Agraria dan Pertahanan, Fery Murshidan Baldan yang merupakan Putera Aceh, Wakil Gubernur Jawa Barat, Dedi Miswar,  Rektor ITB, Pembina UKA-ITB, Rara Tarmizi (Artis asal Aceh), dan ribuan penonton. Penonton yang hadir merupakan mahasiswa dan masyarakat umum, bahkan ada mahasiswa dari luar Bandung seperti dari Yogyakarta, Malang dan Banda Aceh.
Pengisi Acara GBA 2015

Decak kagum dan tepuk tangan penonton memenuhi ruangan saat tarian Likok Pulo yang ditampilkan oleh Sanggar Kesenian Aceh (SAKA) UGM, Tari Saman oleh Mahasiswa Saman Gayo, Rapa’i Geleng, Ranup Lampuan dan Ratoh duek oleh UKA-ITB serta pementasan drama Kejayaan Sultan Iskandar Muda oleh Studi Teater Mahasiswa (STEMA) ITB. Tidak semua penari dan pemain teater berasal dari Aceh, mereka merupakan mahasiswa dari berbagai kampus yang mengikuti dan mengemari budaya Aceh.

Tarian Likok Pula Oleh SAKA UGM

Tarian Ratoh Duek Oleh UKA_ITB

Saya terharu sekaligus bangga akan kebudayaan Aceh yang begitu kaya dan penuh makna. Setiap gerakan dalam tarian yang ditampilkan, mempunyai filosofi tersendiri bahwa betapa rakyat Aceh itu sangat religius ditandai adanya puji-pujian disetiap tarian, cekatan sangat jelas terlihat dalam tarian Ratoh Duek, kuat dan kompak sangat terlihat dalam tarian Likok Pulo dan Rapai Geleng. Pementasan drama Kejayaan Sultan Iskandar Muda juga membuktikan bahwa Aceh itu bangsa yang kuat, kaya, taat dan memiliki sumber daya alam yang melimpah. Hal semacam ini harus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi penerus agar kejayaan Aceh tidak hanya menjadi sejarah dan bangsa aceh tidak akan terpecah belah.  

Drama Sultan Iskandar Muda:
Sultan Iskandar Muda mempersembahkan Gunongan untuk Putri Pahang 

 Penampilan Rara Tarmizi dan Teuku Rio (seniman asal Aceh)

Duo Dara Aceh : Roel & Rara...hahahaha


Saya teringat satu bait syair dalam tarian Rapai Geleng yaitu Piasan rayeuk peudeh adat, tajok tungkat bak aneuk muda. Menye mate aneuk meupat jrat, mate adat pat tamita. Sebagai anak muda Aceh saya merasa terpanggil untuk terus menjaga dan melestarikan budaya Aceh. Selain sebagai identitas diri, budaya menjadi pemersatu bangsa serta bagian dari kekayaan dan kearifan lokal yang harus dipertahankan oleh anak muda dan masyarakat Aceh pada umumnya. Melalui seni tarian dan syair saja sudah menampakkan bahwa orang Aceh itu cerdas, kreatif dan sangat filosofis. Banggalah menjadi orang Aceh dan sama-sama menjaga dan melestarikan budaya Aceh. Kalau bukan kita siapa lagi? kalau bukan sekarang kapan lain? Jak hai rakan sama-sama ta jaga adat.


Kamoe bangga jeut keu Ureng Aceh :)

Wassalam,
Bandung, April 2015
Photo by: Roelalghazel Photograph

3 komentar:

Yudi Randa mengatakan...

videonya ada di link youtube kak?

Nurul Hikmah Alghazel mengatakan...

Ada..search aja tentang GBA 2015 ITB...ga tau pasti sih link nya..hhe
makasih udah berkunjung

Hany Ghina Laudza mengatakan...

Halo, Kak! Tulisannya bagus sekali, informatif jugaa. Mau koreksi sedikit aja, itu foto tari ratoh dueknya tertukar mungkin ya kak? Kalau foto yang itu tari ranup lampuan, hehe. Kebetulan saya juga tampil di GBA 2015, nari ratoh duek. Salam kenal Kak!