Jlebb. itu
yang saya rasakan ketika pertama kali membaca tema giveaway yang diadakan oleh mba Desi Namora. “Delapan hari menuju
kematian”. Asli temanya serem. Serem banget karena memang belum siap mati, dikafani,
dan belum siap dimasukkan ke liang lahat. Tapi seakan hati ini tertohok keras.
Jika soal dunia (ngerjain tugas dan deadline mati-matian harus sempurna), tapi giliran
ibadah dan akhirat ya seadanya dan mungkin terlewatkan begitu saja. Tuhan maaf! kami terlalu sibuk.
Minggu, 27 Maret 2016
Selasa, 23 Februari 2016
Tanpa Keluarga, Obat Terasa Tak Berguna
Tahun
2012 silam, saat masih berstatus sebagai mahasiswa di salah satu Univeristas
kebanggaan Ureung Aceh, IAIN
Ar-Raniry (sekarang UIN Ar-Raniry) saya punya kenangan tersendiri bersama orang
dengan gangguan jiwa (ODGJ). Sebagai mahasiswa Bimbingan dan Konseling Islam
(BKI) Fakultas Dakwah, kami mahasiswa tingkat akhir diwajibkan mengambil mata
kuliah praktikum konseling, sebagai bentuk nyata aplikasi keilmuan konseling
dan penyehatan mental di ranah sosial.
Pihak
jurusan menjalin kerjasama yang baik dengan berbagai pihak yang mampu menampung
aplikasi keilmuan konseling dan penyehatan mental. Salah satunya adalah kerja
sama dengan pihak Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh. Rumah Sakit Jiwa ini merupakan
satu-satunya Rumah Sakit Jiwa di Propinsi Aceh. Telah menampung kurang lebih
700 pasien. Saat itu, praktek mahasiswa dilakukan di bagian Rehabilitasi; tempat
dimana sejumlah pasien telah mampu berkomunikasi dengan baik, emosi stabil dan dinyatakan
hampir sembuh. (Untuk menjaga kehormatan,
mahasiswa tidak diperbolehkan mengekspos biodata maupun foto para pasien. Tapi
disini saya ingin berbagi cerita “sebulan bersama ODGJ”. Melihatnya dari
perspektif berbeda dan (mungkin) bisa menjadi suatu pembelajaran.
Rabu, 17 Februari 2016
Matahari Senja
Matahari, bagiku matahari itu hebat dan perkasa. Punya cahaya
sendiri dan berani. Memberikan kehidupan bagi semesta. Bersinar sesuai titah
Tuhan. Keberadaanmu hidup bagi orang lain. Kadang kau bersinar terang, kadang
kala juga meredup. Kau lelah??? Ku rasa tidak. Kau hanya menyeimbangi peran
dalam semesta. Tau kapan harus bersinar terang dan tau kapan harus meredup.
Ditunggu sepanjang hari sesuai kebermanfaatanmu. Dan yang paling
berkesan, saat senja kau bersama langit menjelma menjadi mega kemerah-merahan. Dimana
semua orang tidak menggurutu, tapi menikmati keindahanmu. Meski telah senja,
keindahanmu mempertemukan satu dengan yang lain, mengakrabkan hubungan dan
menumbuhkan cinta.
Pesona Magetan: Dari Mantenan Hingga Nasi Pecel Jawa Timur
November 2015 lalu,
aku diajak menghadiri pernikahan saudara di Jawa Timur, tepatnya di Desa Mrahu,
Kabupaten Magetan. Aku excited banget
dong, selain karena bisa melintasi hampir seluruh pulau Jawa, sekalian bisa
melihat langsung budaya dan adat istiadat Wong
Jowo.
Dengan segala
persiapan, kita menuju Magetan via darat alias nyetir dari Bandung-Magetan. Jaraknya
mungkin 540 km, kira-kira 15-17 jam waktu perjalanan. Melewati beberapa
kabupaten dan provinsi. Mulai dari Garut-Tasikmalaya-Ciamis-Banjar-Cilacap-Tegal-Purwokerto-Semarang-Yogyakarta-Solo-Ngawi-Magetan
(begitu lah kira-kita, karena
perjalanannya malam jadi ga keliatan dan ga bisa sepenuhnya melihat keindahan
daerah masing-masing).
Pelan tapi pasti mobil
kita melewati jalan yang dikelilingi pohon jati, persawahan dan perkebunan.
Magetan termasuk wilayah yang subur dalam sektor pertanian. Kita nyampe Magetan
itu sekitar pukul 05.00 WIB dan itu suasananya udah terang banget alias
matahari udah terbit (jam 05.00 WIB di Magetan, mungkin kayak jam 06.30 di
Aceh). Walau masih pagi tapi udaranya udah panas banget. FYI, Katanya ada gunung berapi yang masih aktif di daerah Magetan
dan Ngawi, jadi ga salah kalau jam 06.00 kita udah ngipas2 dan nyari kipas
angin...(asli bro panas banget)
Selasa, 16 Februari 2016
Garut Aku Jatuh Cinta (Lagi)
Ini, kedua kalinya aku
berkunjung ke Garut. Setelah semester lalu mengikuti OCT(Baca disini --->>> (Garut Part 1) Garut part 2), kali ini aku sengaja
kembali (tsaahhh...bahasanya) untuk menghadiri pernikahan salah satu teman yang
paling gokil, paling nekat, paling cerewet, kadang jadi umi, kadang jadi anak
kecil, ga bisa diem, ga bisa diatur, sariweuh riweuh lah. Eh tau-taunya dia
duluan yang nikah. Ya begitulah jodoh ya, tak tau kapan datang dan tak tau
siapa duluan. Tapi yang perlu digarisbawahi adalah menikah itu bukan soalan
siapa cepat (kan ini bukan lomba lari..hehehehe), tapi soalan mendapatkan orang
yang tepat pada saat yang tepat pula.....eaaaaa
Oke kembali ke
topik...
Kali ini, ada beberapa
hal yang bikin jatuh cinta (lagi) sama Garut. Kalau pertama kali ke Garut lebih
mengenal pendidikannya, kali ini lebih mengenal budaya, tempat wisata dan pastinya
bahasa Sunda. Selama di Garut, ga tau kenapa pengen aja ngomong bahasa Sunda. Dan
hasilnya.... Abdi salaku urang Aceh, atos
lancar nyarios bahasa Sunda. Huahahahaha (ketawa Bangga..) --->>> ngan
saukur sakitu..hihi
Rabu, 09 Desember 2015
I Write Before I’m Forget!

I love to write, since high school. For the fisrt time, I only write poetry for the school magazine or
just a diary. Then when I’m in the college i met the bloggers and motivated me
to develop and publish on the blog posts. When my traffic’s blog increases, I'm
more confident and passion to write and tell anything, so I make my tagline’s
blog “my story, my adventure and my life”. I want to tell you about
what i’m feel, about my adventure and my life, i wanna share to the world. I’m
so glad that when my wiriting was read and known around the world. Since then I
have often many competitions and my articles posted on the electronic media.
For me writing is the best way to express what we feel when the
mouth can not express it. Writing is storytelling and sharing. Share what I’m
feel and what i see to the world. That's cool right?
Minggu, 06 Desember 2015
Bener Meriah: Tempat yang Bener-Bener Ngangenin
Ini kisah perjalanan 3 tahun silam saat
saya menuntaskan tugas negara (Kuliah Pengabdian Masyarakat- KPM IAIN Ar-Raniry),
sebenarnya sudah ditulis jauh-jauh hari namun “tersembunyi” dalam tumpukan
tulisan yang lain. Akhirnya saya menemukannya kembali. Dengan sedikit revisi siap
berbagi cerita dengan kalian semua. Here we go...
Bener Meriah adalah salah
satu destinasi wisata di Provinsi Aceh. Merupakan
kabupaten baru pecahan dari Kabupaten Aceh Tengah. Terletak di pedalaman Aceh sekitar
6 jam perjalanan darat dari pusat Banda Aceh. Terkenal dengan wilayah “puncaknya”
Aceh, karena cuacanya yang cukup dingin sehingga pelancong yang datang kesana
harus menggunakan jaket yang tebal. Selain itu Bener Meriah adalah salah satu
wilayah penghasil kopi terbaik di Indonesia, walaupun belum banyak yang tau
tapi komitmen pemerintah dan masyrakat terus dikembangkan ke arah kemajuan
Bener Meriah.
Saat pertama menginjakkan kaki di Bener Meriah, udara dingin langsung menusuk tulang. Jika berbicara, asap keluar dari mulut. Waktu itu, saya dan teman-teman kampus tiba di sana sekitar pukul 05.00 pagi. Tepat di kawasan Simpang Balik kami melaksanakan shalat subuh berjamaah di salah satu mesjid. Sementara tubuh kami gemetar hebat setelah dibasuh dengan air wudhu.
Usai shalat kami
memutuskan untuk kembali ke mobil yang parkir di depan penjual buah. Namun
belum sampai di sana, perhatian beralih kepada barisan orang yang menuju ke sebuah tempat. Handuk
bersandang di bahu mereka, sementara tangan kanan mereka memegang timba berisi
peralatan mandi. Mandi jam segini? Dengan udara sedingin ini? Kami hampir tidak
percaya sebelum menemui gapura bertuliskan ’Pemandian
Air Panas Wih Pesam’. Hal unik pertama yang saya temukan di sana adalah
kebiasaan mandi sebelum jam 6 pagi.
Langganan:
Postingan (Atom)

